Menurut Sunaryo (2009) motif adalah komponen penting sebuah ornamen. Ekspresi motif umumnya merupakan komposisi bentuk alam atau ekpresi visual alam, motif sendiri terbagi menjadi 2 yaitu; (1) motif geometris, berkembang dari bentik titik, garis, atau bidang berulang, dari yang sedarhada hingga pola yang rumit; (2) motif non geometris merupakan bentuk hias dengan ukuran bentuk yang tidak pasti atau tidak teratur dan tidak mengandung elemen garis. Motif Lereng merupakan salah satu motif klasik batik yang tak lekang oleh waktu, motif ini ditandai dengan pola garis diagonal berulang dari kanan ke kiri yang melambangkan keteguhan, kesinambungan, dan dinamika hidup.

📖 Sekilas Sejarah
Pada masa lampau, sebelum adanya aturan baku mengenai arah lereng pada jarik, pengrajin bebas menata pola dari kanan ke kiri maupun kiri ke kanan. Namun seiring berkembangnya lembaga pendidikan seni seperti SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) dan ISI (Institut Seni Indonesia), muncul standarisasi arah lereng dari kanan ke kiri, terutama untuk keperluan pertunjukan dan tata busana adat.

🎨 Makna Filosofis
Motif lereng dianggap menggambarkan perjalanan hidup yang terus bergerak naik turun seperti garis miringnya, tetapi selalu berlanjut ke depan. Di beberapa daerah seperti Garut dan Lasem, motif ini juga dihubungkan dengan semangat kerja keras dan kesetiaan terhadap tradisi. Motif ini juga melambangkan “topo broto” atau pertapaan spiritual yang dilakukan oleh para raja. Ritual ini dilaksanakan di lereng pegunungan sebagai upaya sakral untuk mendapatkan wahyu atau wangsit (ilham gaib) yang diperlukan sebagai petunjuk kepemimpinan.

👘 Fungsi dan Penggunaan
Jarik bermotif lereng kerap digunakan pada upacara resmi, pementasan tari tradisional, hingga busana harian. Dalam konteks pertunjukan, arah lereng yang seragam menunjukkan kedisiplinan dan keselarasan gerak antara penari dan pemusik, sebuah wujud harmoni antara seni rupa dan seni pertunjukan. Motif ini juga memiliki pakem penggunaannya, yaitu bagi pria lipatan wiru kain harus berada di ujung sebelah kanan, sebaliknya bagi wanita. Dahulu, motif batik Parang Lereng dilarang dikenakan oleh masyarakat biasa, dengan pembatasan ini pertama kali diberlakukan pada tahun 1785 selama masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I di Yogyakarta.

Lereng dalam Gaya Modern
Kini, motif lereng tidak hanya terdapat pada jarik, tetapi juga diadaptasi dalam busana kontemporer, dekorasi interior, hingga produk kriya modern, tanpa kehilangan nilai filosofisnya sebagai simbol keteguhan dan kesinambungan budaya.

Referensi

Benyamin, M. F., Anggakarti, D. M., Astuti, M., Budiman. (2021). The Symbolic Meaning Of Motif Lereng Batik Garutan. Turkish Journal of Computer and Mathematics Education.

Permatadani. R. P. G. P., Ratyaningrum. F. (2024). Perancangan motif batik lereng Sidapaksa oleh siswa kelas XI-4 SMAN 3 Kediri. Jurnal Seni Rupa.

Syahrin, Alfi. (n.d) The Batik Motif. Retrieved October 29, 2025, from https://www.academia.edu/13325541/The_Batik_Motif

Batik Sejawat. (t.t.). Batik Lereng Actin Myosin. Retrieved October 30, 2025, from https://batiksejawat.com/product/batik-lereng-actin-myosin/ 

Zakawali, Gifari. Mengenal Batik Parang Lereng, dari Sejarah hingga Jenisnya. Retrievwd May 17, 2024, from https://www.orami.co.id/magazine/batik-parang-lereng 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *